Sabtu, 05 Januari 2008

Padang Pariaman

Citra Guru Kian Merosot,

Tingkatkan Tanggungjawab


PDG PARIAMAN, GARDA MINANG

Peralihan pemerintahan, perkembangan budaya yang ditandai dengan kemajuan teknologi dan informasi, serta berubahnya orientasi dan tujuan hidup, secara langsung dan tidak langsung telah membuat citra guru kini merosot di tengah masyarakat. Akhirnya terjadi krisis kepercayaan kepada institusi yang berfungsi untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, yakni sekolah.

Bupati Padang Pariaman, diwakili Kepala Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Padang Pariaman, Drs. Sudirman, memaparkan hal itu ketika memberi arahan pada pembukaan Diklat Penghitungan Angka Kredit (PAK) Guru SD di lingkungan Pemkab Padang Pariaman, beberapa waktu lalu, di INS Kayu Tanam.

Peluang Masuk Surga

` Sehubungan dengan itu, bupati meminta guru agar melaksanakan tugas dengan penuh tanggung jawab dan disiplin, yang disertai dengan “nawaitu” yang baik, yaitu demi pengabdian kepada Allah SWT, bangsa dan negara.

Sebab, pondasi pembangunan karakter bangsa adalah pendidikan dasar. Di sinilah letak mulianya tugas yang diemban guru SD/MI dan SMP/Tsanawiyah. Karena itulah ke depan, kita tidak ingin lagi mendengar, adanya guru SD yang meninggalkan kelas dalam kegiatan belajar mengajar yang mengakibatkan murid seperti “ anak ayam yang kehilangan induk “, atau absen tanpa halangan yang masuk akal, tidak memeriksa PR dan tidak peduli dengan kehadiran, akhlak dan budi pekerti muridnya. Begitu juga hendaknya guru yang mendidik dan mengajar di SLTP dan SLTA.

Jika semua guru sudah melaksanakan tugas dengan penuh tanggung jawab dan disiplin, akan hilang dengan dengan sendirinya krisis kepercayaan masyarakat terhadap sekolah.

Tak dapat kita pungkiri, kata bupati, sejak tahun 1990-an, terdapat krisis akhlak di kalangan generasi muda dan pelajar.Hal ini dibuktikan dengan prilaku dan tata karma mereka yang tidak sesuai dengan filosofi “ adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah “,atau “ kato nan ampek “.

Agar tidak berlarut-larut, sekolah harus mengembalikan fungsinya sebagai pusat kebudayaan, pendidikan dan keterampilan.

Untuk itu, saya menghimbau para guru, lebih-lebih yang mendidik dan mengajar di SD, agar melaksanakan tugas dengan penuh tanggung jawab dan disiplin, yang disertai dengan “ NAWAITU “ yang baik, yaitu demi pengabdian kepada Allah SWT, bangsa dan negara.

Bupati menambahkan, bahwa setiap manusia, akan mempertanggungjawabkan kehidupan dunianya di akhirat kelak. Dan pada hari berbangkit, malaikat akan menanyakan dan mempertimbangkan, sejauh mana amal ibadah yang telah kita perbuat ketika hidup di dunia.

Ternyata, memberikan ilmu yang bermanfaat, salah satu amal ibadah, yang jadi bahan pertimbangan malaikat sebelum seseorang dimasukkan dalam surga. Pada umumnya, seseorang menerima ilmu yang bermanfaat, melalui pendidikan dan pengajaran yang diberikan oleh gurunya di sekolah. Dengan demikian, peluang yang paling besar untuk masuk surga adalah tenaga fungsional, yang mendidik dan mengajar di sekolah, baik di SD/MI, SMP/Tsanawiyah, maupun di SMA/SMK/Aliyah, tegas bupati.

Oleh karena itu, kepada para peserta saya berpesan agar dengan sungguh-sungguh dan disiplin mengikuti Diklat ini. Sebab, disiplin merupakan kunci keberhasilan.

Usai Diklat ini, kembangkan kepada guru lain sehingga bisa pula menghitung angka kredit untuk kenaikan pangkatnya.

Sebelumnya, Ketua Panitia Pelaksana,Drs. M Yasmil Zen Dt. Simarajo melaporkan,bahwa Diklat tersebut berhasil dilaksanakan berdasarkan keputusan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara No. 84/1993 tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kredit.

Pesertanya 40 orang, yang terdiri atas guru SD, staf Dikora dan BKD Padang Pariaman.Khusus guru SD, berusia maksimal 48 tahun, pendidikan minimal D.II/A.II dan dikirim oleh Kacabdin Dikoranya masing-masing. Tujuannya, guru dan tenaga administrasi kependidikan memahami penilaian system langkah kredit untuk kenaikan pangkat guru SD.

Selama diklat,peserta disuguhi materi tentang langkah-langkah; penilaian PAK, PBM, unsure Diklat, pengembangan profesi dan pendidikan. Instrukturnya, disamping dari Lembaga Penjamin Mutu Pendidkan {LPMP} Sumbar, juga dari Dikora dan BKD Padang Pariaman.


Solok Selatan

Kelulusan UN Mengecewakan,

SMAN 2 Sungai Pagu Tetap Kejar Prestasi


SOLSEL, GARDA MINANG

SMAN 2 Sungai Pagu, Solok Selatan, mendapat siswa undangan sebanyak 15 orang. Sekalipun hasil Ujian Nasional (UN) tahun ini mengecewakan, dari 152 orang peserta tidak lulus 29 orang (85persen), namun tidak mengurangi semangat sekolah ini untuk mengejar prestasi.

Demikian dikatakan Ridwan, S.Pd, MM pada Garda Minag di ruang kerjanya, pekan lalu, bahwa sekolah yang dipimpinnya tetap mempertahankan mutu pendidikan walaupun persentase ketidaklulusan siswanya dalam UN tahun ini terbilang besar.

‘Kami tidak kecewa, sebab sesuai aturan yang berlalu, pelaksanaan ujian berlaku dengan semestinya. Hal semacam ini pula yang akan menjadikan kita selaku tenaga pendidik untuk lebih berupaya dan akan dapat lebih menekankan pada siswa kelas 2 sekarang, yang tentunya bakal mengikuti UN tahun depan,” papar Ridwan.

Di bidang pembangunan, Ridwan mengatakan, SMA ini mendapat bantuan dana blockgrant sebesar Rp.70 juta untuk bangunan labor. Selain itu ada swadaya masyarakat sebesar 25persen dan sekarang telah dimulai pembangunan. Setelah pembangunan jalan 30persen, barulah dana sharing dari Dinas Pendidikan Propinsi Sumbar dapat dicairkan.

Pada tahun 2007 ini, lanjut Ridwan, pihaknya telah mengusulkan pada bupati melalui Dinas Pendidikan dana APBD untuk membangun pasar sekolah, mushalla, dan lapangan. Usulan yang diajukan tahun 2006 lalu itu besar harapan dapat terealisasi pada tahun 2007 ini, karena dalam mengejar prestasi pendidikan tiga dari usulan menggait dana APBD Solok Selatan ini sangat penting.

Tiga sarana yang diusulkan untuk sekolah ini, menurut Ridwan sangat penting. “Kenapa tidak? Seperti mushalla, sekolah ini belum memiliki mushalla. Jadi kami untuk melaksanakan ibadah shalat zuhur dan kegiatan besar agama seperti isra’ mi’raj nabi Muhammad SAW, mauled nabi kami harus mempergunakan ruangan belajar atau mencari mesjid terdekat,” ungkap Ridwan.

Saat ini, rombongan belajar ada terdiri dari 12 lokal. Ruang belajar yang tersedia hanya 10 lokal. Itu pun rusak berat sebanyak tiga lokal karena dimakan usia. Kebutuhan lokal belajar di SMAN 2 Sungai Pagu ini 12 lokal, berarti masih kurang dua lokal.

Begitu juga tenaga pengajar yang ada terdiri dari 23 orang PNS, PTT tiga orang dan honor 12 orang, TU PNS dua orang, honor tiga orang. Jumlah murid kelas satu sekarang 184 orang, kelas 2 IPA 78 orang dan IPS 79 orang. “Kalau dilihat minat masyarakat sangat tinggi untuk menyekolahkan anak mereka di sekolah ini,” ujar Ridwan mengakhiri.